CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Monday, September 8, 2008

Pengenalan Gender dan Pembangunan Teknologi

Gender merupakan konsep yang sangat berbeda dengan sex (jenis kelamin). Pembedaan laki-laki dan perempuan berdasarkan jenis kelamin hanya menunjuk pada perbedaan biologis semata. Perbedaan secara biologis ini tidak dapat memasukkan dinamika sosial budaya yang sangat bervariasi antar struktur sosial masyarakat. Konsep gender berusaha menjawab hal ini. Gender merupakan pembedaan laki-laki dan perempuan sebagai hasil konstruksi sosial yang membentuk identitas laki-laki dan perempuan serta pola perilaku dan kegiatan yang menyertainya. Pengertian gender ini memberikan ruang yang sangat dominan terhadap dinamika sosial budaya masyarakat untuk turut mempengaruhi pembedaan peran laki-laki dan perempuan.

Sebagai hasil konstruksi sosial budaya, gender menjadi konsep yang dinamis antara ruang dan waktu. Penelitian sejarah telah membuktikan bahwa konstruksi sosial gender sepanjang waktu berubah-ubah. Terkadang hampir tanpa terasa dinamikanya, namun di lain waktu menjadi isu yang sangat menarik untuk diperdebatkan. Gender juga dapat menjadi komoditas politik, pengalaman sejarah menunjukkan pemerintah kolonial, pengabar Injil berkulit putih serta pengusaha telah membawa konsep gender dari struktur sosial mereka dan mencoba mengintroduksikannya pada masyarakat pribumi. Kegiatan ini menyebabkan dampak yang merusak bagi posisi dan kedudukan kaum perempuan pribumi yang berujung pada hilangnya hak, akses terhadap pekerjaan, kedudukan dan pengambilan keputusan di lingkungan negara maupun keluarga. Terkadang, penguasa kolonial juga menggunakan konsep gender untuk kepentingan ekonomi mereka, semisal untuk mempertahankan akses mereka terhadap tenaga kerja perempuan.

Perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan dianggap sebagai konsekuensi wajar dari perbedaan biologis. Secara biologis, laki-laki dan perempuan memang berbeda. Untuk merubah perilaku sebagai akibat perbedaan biologis ini merupakan suatu hal yang tidak mungkin. Perkembangan hasil-hasil penelitian ilmu sosial menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan berbeda tidak hanya sekedar akibat dari perbedaan biologis antara keduanya. Namun lebih dari itu, proses sosial dan budaya telah turut mempertajam perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Pembahasan mengenai gender, melahirkan tiga teori yaitu :

1. Teori Nurture

Menurut teori ini perbedaan laki-laki dan perempuan pada hakekatnya adalah hasil konstruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda. Konstruksi sosial budaya selama ini menempatkan perempuan dan laki-laki dalam kelas yang berbeda. Laki-laki selalu lebih superior dibandingkan perempuan. Perjuangan untuk persamaan dipelopori oleh kaum feminis internasional yang cenderung mengejar persamaan dengan konsep sama rata, konsep ini kemudian dikenal dengan istilah perfect equality. Perjuangan tersebut sulit tercapai karena berbagai hambatan dari nilai agama dan budaya.

2. Teori Nature

Menurut teori nature, perbedaan laki-laki dan perempuan adalah kodrat yang harus diterima. Perbedaan biologis memberikan dampak berupa perbedaan peran dan tugas diantara keduanya. tedapat peran dan tugas yang dapat dipertukarkan, tetapi ada pula yang tidak dapat dipertukarkan karena memang berbeda secara kodrat alamiah. Perjuangan kelas tidak akan pernah mencapai hasil yang memuaskan, karena manusia memerlukan kerjasama dan kemitraan secara struktural dan fungsional. Dalam kehidupan sosial terdapat pembagian tugas sehingga teori ini melahirkan pemikiran struktural fungsional yang menerima perbedaan peran asal dilakukan secara demokratis dan dilandasi oleh kesepakatan bersama.

3. Teori Keseimbangan

Selain dua teori yang bertolak belakang tersebut, terdapat teori yang berusaha memberikan kompromi yang menekankan pada konsep kemitraan dan keharmonisan dalam hubungan laki-laki dan perempuan. Pandangan ini tidak mempertentangkan antara laki-laki dan perempuan namun menuntut perlunya kerjasama yang harmonis antara keduanya


Tuesday, September 2, 2008

The Carnival of Feminists




In 19 October 2005 Natalie Bennett wrote on her blog, Philobiblon, “Welcome! to the first Carnival of Feminists. In this show there are no captive animals or ‘freak’ displays, but plenty of passion, lots of fun, and more than the odd bit of juggling of life.” Since then, there have been close to fifty editions of the Carnival of Feminists, usually running on the first and third Wednesday of each month and hosted at a different blog each time.

Although Bennett initiated the first Carnival of Feminists, blog carnivals had been popping up in various communities in the blogosphere since 2002, when the Silflay Hraka blog announced its first Carnival of the Vanities (Bigwig, 20 Sept 2002). Indeed, when I asked Bennett in an e-mail interview on 19 August 2007 what inspired her to start the Carnival of Feminists, she said: “I saw male bloggers promoting themselves with vigour all over the blogosphere and saw very few women doing likewise – this was my attempt to get women promoting themselves and each other, and to hopefully bring together women who could help and support each other, share ideas and experiences, learn from each other.”


While the blogosphere has provided an invaluable space for feminist voices, online events such as carnivals also contribute to the creation of important dialogues. Indeed, when Bennett founded the Carnival of Feminists, one of her aims was to create and support dialogue among the different strands of feminist thought, to expose feminists to approaches that were perhaps unfamiliar to them. In my own study of feminist blogging, I have thought a great deal about how blogging technology allows bloggers to connect with one another, to engage in conversations as well as monologues, and to do so in a way that does not demand extensive outlay or technical skill.


The hyperlink,[1] a mainstay of many online texts, allows bloggers to connect their texts to other blogs, incorporating the linked text into the blog in a more tangible way than a citation, for instance, and comments[2] allow readers to add their voices to the text of the blog entry, often making blogs collaborative texts, even when they are maintained by a single blogger. Additional functions, such as trackback, traffic trackers, or site meters, allow bloggers to connect to other sites that have referenced a particular post and (in the case of a traffic tracker like Google Analytics) provide a snapshot of the visitor’s location and time spent on the site.

Also, open-access and user-friendly blogging platforms, such as Blogger, offer anyone with an Internet connection and a basic knowledge of word-processing and Internet navigation a low-cost and (theoretically at least) low-hassle publishing option. Although blogging has the potential to eliminate (or at least challenge) many barriers when it comes to publishing and connecting with an audience, barriers that continue to exclude many women from the relatively privileged circle of the blogosphere must not be ignored. Writer and blogger Audacia Ray describes the inequality of global Internet access: “Seventy-five percent of Americans have Internet access, while in many developing countries, less than 5 percent of the population has access” (Ray 211).

The effect of this imbalance is something Bennett has felt in her own attempts to extend the reach of the Carnival of Feminists: “I started out hoping to get a real dialogue going between bloggers in the developed and developing world, and that really hasn't worked out.” To date, the Carnival covers four continents, and Bennett is keen to involve bloggers in Africa and South America.


Difficulties do not end, however, with access to the Internet, blogging skills, and the luxury of free time. Many feminist bloggers face yet more challenges that can be frustrating and even frightening. Earlier this year, Jessica Valenti, editor of the widely read feminist blog Feministing.com, described in The Guardian (UK) how many women bloggers have been the targets of sustained and frightening hate attacks. She wrote, “While no one could deny that men experience abuse online, the sheer vitriol directed at women has become impossible to ignore” (Valenti 2).

Valenti referred specifically to the experience of Kathy Sierra, a blogger who was afraid to leave her property and cancelled events because threats of physical violence had been made against her online. In our correspondence, Bennett also commented on the attacks many feminist bloggers experience, “From what I've seen it tends to be women bloggers from ethnic minority communities who have the toughest time online, suffering from a high level of abuse and troll attacks. Not everyone can face this, however, and not everyone is ready for it.”

Monday, September 1, 2008

Male Bloggers? Female Bloggers?

Due to our observation from the blog owned by female & male, basically, male like to put up information on their blog compare with female. One fascinating blog that v browse through give us a surprise! The blogger put up all those famous music in his blog, providing information regarding the music such as wat is the main idea of the music, the tone and etc. Where as most of the female blogger intend to write about their feelings or their daily personal experience.

Well, to have a valuable opinion from the view of the famous bloggers is failed as v r unable to get a reply from them even though v had sent email to them…what a frustrated incident!

However, v have browse through some of their blogs and we found that there are some difference between male and female bloggers. Usually , they will post up a new posts almost everyday, using their most familiar language. Most of the male bloggers like to share informative information on their blogs such as music. They like to share information more than sharing their feeling. For female bloggers, they prefer share their daily stories and what happen around them. Their post are more sentimental than the male bloggers.

These are some blogs that as example for you guys to read:

http://sethgodin.typepad.com/


http://hedwigelaine.blogspot.com/

well, hope you guys can provide some opinion on the difference on female and male bloggers and why do you say that.

Hope to see your reply soon ^^

What is blog?

Well, we often heard that about blogs, blogging, blogger.And now we even have our assignment on a blog!However, did you ever really have the knowledge about what is blogs? Do you really know what is blog? Is ok , we will let you know today *n_n*


The origins of blogging go further back than the Internet to the days of personal diaries, chronicles and other written forms of personal musings. Today, a blog is considered to be a Web page that serves as a publicly accessible personal journal for an individual or company. Online media, such as discussion forums and e-mail lists are also considered to be predecessors to the blog.

Most blogs will be displayed in a journal or log entry format, where most are updated daily or more frequently than most Web sites would be. Blogs often reflect the personality of the author or the company employees they represent.

I believe now that most of you know what is blog and most of you guys even have your own blog. Now we are going to introduce you guys some famous bloggers (well, they are from foreign country :p)

Duncan Bowen Black, better known by his pseudonym Atrios is an American liberal blogger living. His weblog Eschaton is one of the most popular political weblogs, receiving an average of over 100,000 hits every day. Before starting Eschaton, Black wrote (as Atrios) for the webzine Media Whores Online (now defunct). During the 2004 Democratic National Convention in Boston, he revealed that he had accepted a job at Media Matters for America and allowed his name and photograph to be published. He later said that as an academic he blogged pseudonymously to avoid attacks like those later unleashed on Timothy Shortell.

Glenn Harlan Reynolds is best known for his weblog, Instapundit, one of the most widely read American political weblogs.Reynolds is often described as conservative, but in fact holds liberal views on social issues. He once illustrated his combination of views by stating: "I'd be delighted to live in a country where happily married gay couples had closets full of assault weapons. He is a strong supporter of Porkbusters and the Iraq War. In his remarks, he said:

Changes in technology are producing major changes in media and journalism. Journalism is becoming an activity, not simply a profession. In my InstaPundit.com weblog I have tried to foster the growth of amateurism in that field, by encouraging people to get involved and to make use of the new tools—from Web publishing to inexpensive digital still and video cameras—to bring news and perspectives to the world stage that were previously lacking.

Saturday, August 30, 2008

Gender dalam Sains dan Teknologi


Perbincangan gender sebenarnya sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat kita. Namun, seringkali banyak pihak yang berpendapat sama antara makna gender dan seks. Padahal, sesungguhnya keduanya adalah dua hal yang berbeda. Gender lebih mengacu pada identitas kultural yang melekat pada satu jenis kelamin tertentu. Sedangkan seks lebih mengacu pada identitas jenis kelamin secara biologis. Orang yang berjenis kelamin, secara biologis memiliki konsekuensi kodrati. Contohnya, Seorang perempuan mau tidak mau akan menjalankan fungsi-fungsi seks yang tidak dijalankan oleh laki-laki, seperti melahirkan, menyusui, dan berbagai aktivitas ‘perempuanan’ lain yang bersifat alamiah.

Perbedaan jenis kelamin secara biologis seringkali membuat salah satu pihak diperlakukan tidak adil dalam ruang sosial. Perempuan dengan berbagai aspek-aspek kodratinya selalu diposisikan dalam ruang domestik (kelas dua). Sedangkan laki-laki biasanya lebih diposisikan dalam ruang publik (kelas satu). Pengidentifikasian semacam ini sesungguhnya adalah praktik dari ketidakadilan gender (bukan ketidakadilan seks), seolah-olah perempuan yang mengurus rumah tangga diasumsikan tidak mampu mengurusi persoalan-persoalan di ruang publik yang menyangkut kepentingan orang banyak. Dalam faktanya, bukan tidak mungkin perempuan juga memiliki kemampuan untuk mengaktualisasikan dirinya di ruang publik sebagaimana halnya laki-laki.

Islam memandang laki-laki dan perempuan adalah dua makhluk yang setara. Dijelaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan potensi untuk mencapai status tertinggi di hadapan Tuhan. Dalam QS. Al-Ghafir ayat 40, Tuhan juga memberikan penghargaan yang sama antara karya positif laki-laki dan karya positif yang dihasilkan perempuan, dengan harga yang sama. Al-Qur’an memang mengungkapkan perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan, tetapi harus dicermati kembali apakah ungkapan tersebut mengacu kepada unsur biologis atau non-biologis (Sumbulah, 2006: 37).

Dengan demikian, kiranya perdebatan mengenai gender tidak perlu berlama-lama. Mengacu pada penjelasan di atas, bahwa dalam hal jenis kelamin secara biologis yang nota-bene sudah menjadi kodrati masing-masing individu, maka kita tidak bisa untuk menuntut adanya ‘keadilan’, Namun, hal-hal yang terkait dengan identitas non-biologis atau dalam pemahaman seperti di atas disebut dengan istilah gender, maka masing-masing individu dapat menyesuaikan yang didasarkan atas potensi yang dimiliki. Atas dasar ini, kiranya tidak ada perbedaan yang saklek mengenai pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan. Dalam tulisan ini penulis melakukan telaah bagaimana kedudukan antara laki-laki dan perempuan dalam pengembangan sains dan teknologi yang dewasa ini sudah semakin ‘gila’.

Sejak abad ke-20 perkembangan sains dan teknologi berjalan pesat seiring dengan kebutuhan dan kemudahan hidup yang diinginkan oleh manusia, sejalan dengan perkembangan masyarakat dan perubahan sosial. Masyarakat dengan pelbagai macam adat istiadatnya secara sengaja maupun tidak sengaja akan berperan sebagai pencipta dan pengguna teknologi. Perkembangan yang dimaksud meliputi teknologi di bidang pertanian, industri, transportasi, komputasi, kesehatan/kedokteran, persenjataan, komunikasi dan informasi. Keberadaan Teknologi dalam masyarakat tidak bisa dilepaskan dari perkembangan masyarakat itu sendiri. Teknologi merupakan salah satu bagian dari peradaban masyarakat.

Sebagai konsekuensi, kehidupan bermasyarakat yang menyangkut penciptaan dan penggunaan teknologi maka akan melibatkan semua jenis kelamin, tidak memihak terhadap salah satu jenis, laki-laki atau perempuan ansich. Bila kita membicarakan masalah teknologi seolah-olah teknologi hanya merupakan milik kaum laki-laki saja. Misalnya hanya laki-lakilah yang dapat menciptakan teknologi yang canggih seperti pesawat terbang. Rendahnya perempuan dalam perkembangan sains dan teknologi, diakui atau tidak disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan perempuan secara umum. Meskipun di kota-kota besar banyak sekali perempuan yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi, tetapi kalau dalam skala makro, keterwakilan perempuan di bidang sains dan teknologi masih tergolong sangat rendah.

Sehingga tidak heran jika muncul stigma bahwa perkembangan sains dan teknologi hanya menjadi dominasi bagi kaum laki-laki. Sedangkan perempuan hanya diberikan posisi sebagai pengguna teknologi. Benarkah pernyataan tersebut? Sekilas, memang benar karena pada kenyataannya produk-produk teknologi yang sebagian besar sudah kita nikmati ini memang karya dari kaum adam. Namun, sebenarnya banyak sekali peran perempuan dalam perkembangan sains dan teknologi, tetapi hal itu tidak akan nampak di permukaan karena adanya pembedaan menurut kultur sosial budaya (Wakhidah, 2006: 137).

Secara historis-sosiologis, ilmuwan yang menganut faham feminisme telah mempertanyakan hubungan antara gender dan ilmu pengetahuan (terutama sains) sejak tahun 70-an. Banyak ilmuwan yang berhasil menemukan temuan baru yang mempunyai identitas kelamin perempuan. Para pemerhati perempuan memprediksikan bahwa di masa yang akan datang akan lebih banyak lagi ilmuwan perempuan yang muncul ke permukaan dalam pergulatan ilmu pengetahuan. Prestasi perempuan tidak dapat dipungkiri lagi. Perempuan sudah banyak memberi kontribusi terhadap perkembangan sains dan teknologi (Waejman dalam Wakhidah, 2006:138).

Saat ini, sudah saatnya kita tidak terlalu lama berdebat soal “jenis kelamin” teknologi. Artinya kita tidak terlalu sibuk mempersoalkan teknologi ini dibuat oleh siapa, laki-laki atau perempuan. Alangkah lebih bijaknya, mulai saat ini kita bisa mulai berpikir apa peran kita masing-masing sebagai individu dalam perkembangan sains dan teknologi ini. Karena kenyataan menunjukkan bahwa partisipasi perempuan masih lebih rendah daripada laki-laki, maka hendaknya kenyataan ini dijadikan motivasi para perempuan untuk sesegera mungkin menyusul untuk ikut berperan dalam perkembangan sains dan teknologi. Satu hal yang perlu mendapat perhatian serius terkait hal ini adalah antara laki-laki dan perempuan ‘wajib’ selalu mengembangkan SDM-nya terutama bidang sains dan teknologi. Jika hal ini dapat direalisasikan, maka orang yang selama ini selalu mempermasalahkan tentang peran perempuan dalam perkembangan sains dan teknologi secara otomatis akan terjawab.

Adanya fenomena di atas, maka UNESCO bekerjasama dengan LIPI untuk membentuk sekretariat regional untuk gender, ilmu pengetahuan dan teknologi di kawasan Asia Pasifik. Pembentukan badan ini merupakan perwujudan dari rekomendasi konferensi Dunia Perempuan dan konferensi Dunia tentang pengetahuan. Sekretariat tersebut diharapkan dapat meningkatkan peran serta perempuan khususnya bidang sains dan teknologi. Selain itu pusat penelitian dan pengembangan kependudukan dan ketenagakerjaan LIPI juga mengutamakan gender mainstreaming dalam kegiatan penelitian. Adanya hal ini diharapkan akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tercapainya kesetaraan gender di bidang iptek (Kompas,2000).

Untuk ke depan, perkembangan sains dan teknologi -mau tidak mau- akan memaksa perempuan untuk terlibat aktif dalam pengembangan sains dan teknologi. Perempuan (dan juga laki-laki) dituntut tidak hanya sebagai pengguna (baca: penikmat) iptek saja, tetapi juga berperan sebagai penemu, penggagas, pencipta (creator). Dengan demikian, kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan dalam hal mengembangkan sains dan teknologi dapat terwujud.